Faspay Blog

Cari tahu tentang tips bisnis online, teknologi pembayaran, pemasaran digital, dan segala yang ingin diketahui tentang Faspay

cara-mengatur-cash-flow-perusahaan

Cara mengatur cash flow perusahaan dapat dilakukan dengan mencatat seluruh arus kas, membuat proyeksi keuangan, mempercepat penerimaan pembayaran, mengendalikan pengeluaran, serta mengevaluasi arus kas secara berkala. 

Pengelolaan yang baik membantu perusahaan menjaga likuiditas, memenuhi kewajiban tepat waktu, dan memiliki ruang untuk berkembang. Simak strategi jitu mengatur cash flow perusahaan di bawah ini!

Baca Juga: Strategi Jitu Scale Up Bisnis

Apa Itu Cash Flow Perusahaan?

Cash flow atau arus kas adalah pergerakan uang yang masuk dan keluar dari perusahaan dalam periode tertentu. Sederhananya, cash inflow menunjukkan dana yang diterima perusahaan, sedangkan cash outflow menunjukkan dana yang dikeluarkan untuk menjalankan bisnis.

Secara umum, arus kas perusahaan dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Arus kas operasional, seperti penerimaan dari pelanggan dan pembayaran biaya operasional.
  2. Arus kas investasi, seperti pembelian atau penjualan aset perusahaan.
  3. Arus kas pendanaan, seperti penerimaan pinjaman atau tambahan modal serta pembayaran kewajiban pendanaan.

Memahami ketiga jenis arus kas tersebut membantu perusahaan melihat dari mana uang berasal, ke mana uang digunakan, dan apakah operasional bisnis benar-benar menghasilkan kas.

Cash Flow Positif vs. Cash Flow Negatif

Cash flow positif terjadi ketika kas yang masuk lebih besar daripada kas yang keluar dalam periode tertentu. Sebaliknya, cash flow negatif terjadi ketika pengeluaran kas lebih besar daripada penerimaan kas.

Namun, cash flow negatif tidak selalu berarti perusahaan mengalami kerugian.

Contohnya, perusahaan dapat mencatat keuntungan dari penjualan secara akuntansi, tetapi pelanggan baru membayar 30–60 hari kemudian. Pada saat yang sama, perusahaan harus membayar supplier dalam 14 hari.

Artinya, masalahnya bukan semata-mata pada profitabilitas, tetapi pada timing antara uang masuk dan uang keluar.

Inilah alasan mengapa perusahaan perlu mengelola cash flow secara aktif.

7 Cara Mengatur Cash Flow Perusahaan

7 Cara Mengatur Cash Flow Perusahaan

Berikut beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan untuk menjaga arus kas perusahaan tetap sehat.

1. Catat Seluruh Pemasukan dan Pengeluaran

Langkah pertama dalam mengatur cash flow perusahaan adalah mengetahui secara jelas berapa uang yang masuk dan keluar.

Catat seluruh transaksi, termasuk:

  • Pembayaran dari pelanggan.
  • Piutang yang sudah diterima.
  • Pembelian bahan baku atau stok.
  • Gaji dan tunjangan karyawan.
  • Biaya operasional.
  • Pembayaran supplier.
  • Cicilan atau utang.
  • Pengeluaran untuk marketing.
  • Pembelian aset.

Jangan hanya mencatat transaksi dalam jumlah besar. Pengeluaran kecil yang terjadi berulang kali juga dapat memengaruhi kondisi kas perusahaan.

Pencatatan yang konsisten membuat perusahaan lebih mudah melihat pola pengeluaran dan menemukan potensi kebocoran biaya.

2. Buat Proyeksi Cash Flow

Jangan hanya melihat posisi kas hari ini. Perusahaan juga perlu memperkirakan kondisi kas di masa mendatang.

Cash flow projection membantu perusahaan memprediksi kapan kas kemungkinan bertambah atau berkurang.

Proyeksi dapat dibuat berdasarkan:

  • Perkiraan penjualan.
  • Jadwal pembayaran pelanggan.
  • Jadwal pembayaran supplier.
  • Gaji dan biaya rutin.
  • Pajak dan kewajiban lainnya.
  • Rencana pembelian aset.
  • Cicilan atau pembayaran utang.

Sebagai contoh, perusahaan memperkirakan akan menerima pembayaran Rp500 juta pada akhir bulan. Namun, dalam dua minggu sebelumnya terdapat kewajiban pembayaran supplier sebesar Rp350 juta dan payroll sebesar Rp100 juta.

Dengan proyeksi cash flow, perusahaan dapat mengetahui apakah saldo kas yang tersedia cukup untuk melewati periode tersebut.

Semakin jauh perusahaan dapat memprediksi kebutuhan kas, semakin cepat tindakan korektif dapat dilakukan.

3. Percepat Penerimaan Pembayaran dari Pelanggan

Salah satu tantangan cash flow yang sering terjadi adalah piutang yang terlalu lama tertahan.

Penjualan sudah terjadi, tetapi uang belum masuk ke rekening perusahaan.

Untuk mempercepat cash inflow, perusahaan dapat:

  • Menentukan termin pembayaran yang jelas.
  • Mengirim invoice segera setelah transaksi.
  • Menyediakan berbagai metode pembayaran.
  • Mengirim payment reminder sebelum jatuh tempo.
  • Memantau invoice yang sudah dan belum dibayar.
  • Menetapkan prosedur follow-up untuk pembayaran yang terlambat.
  • Memberikan opsi pembayaran yang praktis bagi pelanggan.

Di sinilah sistem pembayaran digital dapat membantu proses collection.

Semakin mudah pelanggan melakukan pembayaran, semakin kecil friction dalam proses pembayaran. Perusahaan juga dapat mengurangi proses manual yang biasanya membutuhkan waktu untuk mengecek pembayaran satu per satu.

4. Kendalikan dan Prioritaskan Pengeluaran

Mengatur cash flow bukan berarti memangkas semua pengeluaran.

Yang lebih penting adalah memastikan setiap pengeluaran memiliki prioritas dan tujuan yang jelas.

Pisahkan pengeluaran menjadi beberapa kategori, misalnya:

Prioritas Contoh
Wajib Gaji, pajak, supplier, utilitas
Operasional Software, logistik, maintenance
Pertumbuhan Marketing, hiring, ekspansi
Bisa ditunda Pembelian aset atau proyek non-urgent

Ketika cash flow sedang ketat, perusahaan dapat memprioritaskan pengeluaran yang menjaga operasional tetap berjalan.

Evaluasi juga pengeluaran yang tidak memberikan dampak bisnis yang jelas. Biaya kecil yang tidak pernah dievaluasi dapat menjadi significant ketika terakumulasi dalam jangka panjang.

5. Kelola Piutang dan Utang secara Seimbang

Cash flow perusahaan sangat dipengaruhi oleh accounts receivable dan accounts payable.

Jika pelanggan membayar dalam 60 hari tetapi perusahaan harus membayar supplier dalam 14 hari, perusahaan perlu menyediakan modal kerja untuk menutup gap tersebut.

Karena itu, perusahaan dapat:

  • Meninjau kembali payment terms pelanggan.
  • Meminta uang muka atau DP jika sesuai dengan model bisnis.
  • Memberikan opsi pembayaran lebih cepat.
  • Menegosiasikan termin pembayaran dengan supplier.
  • Membuat daftar piutang berdasarkan tanggal jatuh tempo.
  • Memprioritaskan penagihan invoice yang sudah overdue.

Tujuannya bukan sekadar membuat cash flow positif, tetapi menjaga cash conversion cycle tetap terkendali.

6. Pisahkan Dana Operasional dan Dana Cadangan

Perusahaan sebaiknya tidak menggunakan seluruh kas yang tersedia untuk kebutuhan saat ini.

Sisihkan sebagian dana sebagai cash reserve untuk menghadapi kondisi tidak terduga, seperti:

  • Penurunan penjualan.
  • Keterlambatan pembayaran pelanggan.
  • Kenaikan biaya operasional.
  • Kerusakan peralatan.
  • Kondisi pasar yang tidak menentu.

Besaran dana cadangan tidak harus sama untuk setiap perusahaan. Kebutuhannya bergantung pada industri, tingkat volatilitas pendapatan, struktur biaya, serta seberapa cepat perusahaan dapat menghasilkan kas.

Yang terpenting adalah menentukan target cadangan berdasarkan kebutuhan operasional nyata, bukan sekadar mengikuti angka yang sama untuk semua bisnis.

7. Evaluasi Cash Flow secara Berkala

Cash flow sebaiknya tidak hanya diperiksa ketika perusahaan mulai kehabisan uang.

Lakukan review secara rutin untuk melihat:

  • Saldo kas saat ini.
  • Total cash inflow.
  • Total cash outflow.
  • Piutang yang belum tertagih.
  • Utang yang segera jatuh tempo.
  • Perbedaan antara proyeksi dan realisasi.
  • Pengeluaran yang mengalami kenaikan.
  • Periode ketika kas berpotensi mengalami tekanan.

Untuk bisnis dengan transaksi tinggi atau cash flow yang cepat berubah, monitoring dapat dilakukan lebih sering. Sementara itu, bisnis dengan arus kas yang relatif stabil dapat melakukan review mingguan dan evaluasi yang lebih menyeluruh setiap bulan.

Tujuan monitoring bukan hanya mengetahui berapa uang yang tersisa, tetapi memahami mengapa saldo tersebut berubah.

Kesimpulan

Cara mengatur cash flow perusahaan tidak berhenti pada mencatat pemasukan dan pengeluaran. Perusahaan perlu memahami pola arus kas, memproyeksikan kebutuhan dana, mempercepat pembayaran pelanggan, mengendalikan pengeluaran, mengelola piutang dan utang, serta melakukan monitoring secara konsisten.

Kunci utamanya adalah memastikan perusahaan memiliki uang yang cukup, pada waktu yang tepat, untuk memenuhi kebutuhan yang tepat.

Dengan pengelolaan cash flow yang lebih terstruktur, perusahaan dapat mengurangi risiko kekurangan kas, menjaga operasional tetap berjalan, dan mengambil keputusan bisnis dengan lebih percaya diri.

Yuk, kunjungi Faspay sekarang dan daftarkan bisnis Anda sebagai merchant untuk mendapatkan solusi payment gateway terbaik yang aman, cepat, dan terpercaya!  

Lihat Artikel Lainnya

payment-gateway-untuk-aplikasi-mobile

Payment Gateway untuk Mobile Apps: Panduan Integrasi dan Tips Memilihnya

cara-mengatur-cash-flow-perusahaan

Cara Mengatur Cash Flow Perusahaan agar Tetap Sehat dan Stabil

payment-gateway-subscription

Payment Gateway Subscription: Panduan Sistem Pembayaran untuk Bisnis Subscription

cara-meningkatkan-customer-experience

7 Tips Meningkatkan Customer Experience untuk Bisnis