Pelaku E-Commerce, Inilah 5 Alasan Customer Meninggalkan Website Anda

ecommerce.jpg

Selaku retailer online, website Anda seharusnya menjadi ‘penjual’ terbaik. Setuju?

Pernahkah Anda membayangkan mengapa produk Anda kurang menjual padahal potensial? Mungkin ini saatnya memperhatikan lebih dalam pada web experience Anda. Umumnya, semakin lama seorang customer di website Anda (scroll dan klik), semakin besar peluang mereka melakukan pembelian. Namun, jika data analytics Anda menunjukkan kebalikannya, cross-check beberapa faktor berikut ini.

1. Value Produk Kurang Jelas

Tanyakan pada diri sendiri, apa yang ingin Anda temukan ketika mampir ke sebuah website? Jawaban Anda bisa dipastikan sama dengan pengunjung website Anda, yakni 1) apakah ini tepat untuk saya?, 2) apa yang ditawarkan?, dan 3) bagaimana mengaksesnya? Jika customer tidak menemukan alasan yang mempertahankan mereka di web yang bersangkutan, website Anda akan ditinggalkan.

Menurut Neilsen, Anda hanya punya 10 detik untuk menyakinkan customer bahwa produk Anda tepat. Maka, pastikan Anda sudah menyatakan purpose dan benefit produk Anda melalui bahasa sesuai target market. Ya, bahasa yang tepat akan turut meyakinkan customer bahwa produk Anda memang ditujukan untuk mereka.

2. Target Traffic Tidak Dipikirkan

Website Anda tidak akan begitu saja dikenal banyak orang tanpa target yang jelas. Berapa banyak traffic yang Anda inginkan selama waktu tertentu? Dengan mengetahui hal ini, selanjutnya Anda tinggal menerapkan strategi. Misalnya, menerapkan kata kunci (keywords) yang relevan dengan isi website Anda, posting di social media, dan menulis blog.

3. Mengabaikan Mobile Version

Zaman semodern sekarang, customer serba-mobile. Menurut data Shopify, akun mobile lebih dari 50% bagi traffic ecommerce, hampir 30%-nya membuahkan penjualan. Artinya, website yang mobile-responsive merupakan kunci bagi retailer online mana pun. Periksa apakah website Anda sudah mobile-responsive, mengingat customer mengakses web Anda bukan hanya dari PC desktop, melainkan juga smartphone dan tablet. Desain mobile responsive akan ‘menangani’ semua perangkat mobile ini.

4. Call to Action yang Jelas

Call to Action tidak hanya berlaku pada button, tetapi juga pada isi website Anda. Bentuknya bisa berupa ajakan untuk membeli (purchase) produk, download PDF atau ebook, mendaftar mailing list atau newsletter, atau sekadar klik ‘learn more’ tentang brand Anda. Ajakan seperti ini mungkin melibatkan alasan personal sehingga tidak selalu menghasilkan sales. Namun, ini salah satu cara mempertunjukkan value Anda. Bisa jadi, sebelum mereka melakukan purchase, mereka butuh mengenal brand Anda lebih baik dan memberi respons. Dengan upaya ini saja Anda sudah membangun relationship yang berpotensi menguntungkan.

5. Website Anda Tidak Sesuai dengan Campaign yang Dijalankan

Seringkali, penjual hanya ingin mengiklankan brand-nya dengan cara menampilkan iklan yang ternyata tidak sesuai. Jelas, cara semacam ini hanya akan mengecewakan customer. Misalnya, Anda mengiklankan satu produk baru dengan harga murah, tapi kenyataannya, setelah customer checkout ada biaya-biaya lain yang memberatkan. Entah itu biaya kirim, biaya pajak, atau biaya lain-lain yang tidak Anda utarakan di awal. Seperti yang sudah dikatakan dalam poin 1, customer mengharapkan website Anda menyediakan kebutuhan mereka.

pexels-photo-919436.jpg

3 Faktor Payment Online yang Akan Mempengaruhi Cara Bayar Anda Tahun 2018

rencana-liburan-1.jpg

Rencanakan Liburan Hemat agar Cicilan Tak Membengkak