Bagaimana Generasi Z dalam Berbelanja?

Masih terobsesi dengan millenials?

Jangan sepelekan kekuatan generasi Z dalam berbelanja. Mereka memang belum memiliki penghasilan tetap, tetapi peran orang tua berada di belakangnya. Terlebih lagi generasi Z yang lahir pada tahun 1995-2012, lahir saat internet dan smartphone sedang berkembangnya. Mereka akrab dengan teknologi digital dan social media. Makanya mereka adalah sasaran empuk dalam industri online.

Gen-Z tahu apa yang mereka inginkan. Mereka sudah memiliki pendapat sendiri dan tak lagi menuruti selera orang tua dalam memilih barang yang mereka inginkan. Sebuah survei Nielsen Consumer & Media View (CMV) menyebutkan jika Gen-Z bahkan memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan di keluarga.

Berbeda dengan millennials, Gen-Z cenderung melirik apa yang dikenakan oleh temannya dalam urusan fashion, misalnya. Gen-Z lebih memilih mengenakan apa pun yang mereka anggap keren, dibandingkan millennials yang menilai produk dari sisi “pengalaman”. Mereka lebih percaya dengan rekomendasi orang-orang atau panutan yang umurnya tak jauh berbeda dengannya. Jika pelaku bisnis tak bisa berperilaku seperti mereka, maka Gen-Z bisa “kabur” dari produk Anda.

Erns & Young pernah mengadakan survey tentang perbedaan pola belanja antara millennials dengan Generasi Z kepada 1.000 orang dewasa dan 400 remaja. Sebanyak 49% Gen-Z belanja setidaknya sebulan sekali—dan kebanyakan dari mereka belum memiliki credit card.

Ada beberapa alasan mengapa Gen-Z mulai belanja online—tentunya selain karena mereka sangat dekat dengan teknologi. Ada beberapa alasan mengapa Generasi Z belanja online, seperti menghemat waktu (63%), pilihan online lebih baik (53%), harga lebih murah (50%), dan produk mudah dicari (34%). Kesimpulannya, Gen-Z memang mencari kemudahan dalam berbelanja.

Strategi Menjangkau Gen-Z

Dikutip dari laman Entrepreneur, berikut ini strategi pemasaran untuk menjangkau Gen-Z.

  • Kolaborasi dengan social influencer. Influencer dianggap keren bagi Gen-Z dan mereka akan mengikuti sesuatu yang keren menurut mereka.
  • Gunakan media social. Jangan begitu mengandalkan website karena mereka jarang membuka search engine. Jangkau mereka lewat media sosial, seperti Instagram.
  • Visual-visual-visual! Konten berformat visual lebih menarik dan meninggalkan kesan yang kuat untuk mereka, mulai dari image, gif, hingga video dengan durasi singkat.