Generasi Millennial: Aset Berharga Perusahaaan Anda

Millennials; generasi yang dicap sebagai generasi pemalas, tidak mau mengikuti proses, cenderung tidak setia pada perusahaan, atau hingga “generasi yang selalu online”. Suka atau tidak suka dengan pendapat tersebut, di tahun 2020 mendatang, generasi Millennial akan mengisi 40% kursi-kursi di berbagai organisasi. Organisasi perlu bersiap untuk menyesuaikan diri dengan keberadaan mereka, dan generasi ini bukan tipical yang mengikuti adat istiadat yang kuno. Mengapa demikian?

Generasi millennials dipercaya merupakan generasi sudah pandai untuk “Googling” dengan iPad bahkan sebelum mereka bisa menulis. Berbagai perkembangan teknologi membuat generasi millennial hidup di dunia yang sudah “High Tech” dan lebih nyaman dari zaman sebelumnya. Sifat tanggap teknologi ini yang menjadikan generasi millennial di perusahaan Anda tentunya merupakan aset berharga karena merekalah pencetus-pencetus ide-ide inovasi untuk masa depan perusahaan Anda nantinya.

Fenomena motivator melahirkan pandangan bahwa kesuskesan dapat dicapai di usia muda. Hal ini berhasil mendorong generasi Y akhir untuk mencapai posisi strategis di perusahaan seperti “Managerial/Head Position” di usia yang terbilang yang amat muda, yaitu 23 – 25 tahun. Berbeda dengan generasi millennials yang kebanyakan berpendidikan tinggi, mereka terbilang yakin akan potensi di dalam diri mereka. Kesuksesan tidak lagi sekedar tentang uang atau posisi tinggi, melainkan bagaimana kehadiran mereka dapat memberikan dampak bagi lingkungannya. Sehingga hal ini membuat mereka menjadi selektif dalam mencari perusahaan. Mereka akan cenderung memilih perusahaan yang peduli terhadap lingkungan sekitarnya dan perusahaan yang memberikan dampak positif tidak hanya untuk internalnya namun juga untuk pihak eksternal.

Generasi millennial juga tidak dapat dipaksa untuk datang ke kantor dengan kemeja berdasi ataupun dengan sepatu hak tinggi. Google terkenal sebagai organisasi yang menyesuaikan diri dengan membuat kantornya seperti sebuah tempat bermain dan membebaskan karyawannya dalam hal berpakaian dan bekerja, hingga menyediakan berbagai fasilitas untuk membuat karyawannya nyaman dalam bekerja. But everything comes with a price. Kebebasan yang diberikan perusahaan tentunya harus dikembalikan dengan hasil pekerjaan yang memuaskan. Banyak organisasi yang kini seakan membebaskan para karyawannya, namun tetap menuntut hasil akhir (closing report) yang tinggi.

Para millennials terbiasa dalam mengemukakan pendapat mereka sedari mereka kecil dan akan berlanjut ketika mereka bekerja. Namun sayangnya, kebiasaan ini membuat generasi millennial dinilai kurang menghormati generasi atas mereka sebagai atasan atau senior karena dianggap terlalu berani untuk berpendapat atau memberikan masukan.

Salah satu proses adaptasi yang dilakukan oleh banyak perusahaan start up untuk membangkitkan motivasi kerja serta ide-ide kreatif generasi millenial adalah kompetisi bagi para karyawannya dalam membuat ide untuk inovasi bagi perusahaan mereka dan memberikan reward berharga sebagai gantinya, seperti pembagian saham perusahaan apabila bisnis tersebut benar-benar dijalankan perusahaan.

Generasi millennial menggeser paham mengenai Work-Life Balance menjadi “LIFE”, dimana artinya mereka ingin menghidupi dan menikmati kehidupan mereka sebaik-baiknya. Generasi millennials sadar bahwa bekerja memang perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi hidup bukan hanya sekedar untuk bekerja.

Melihat beberapa karakteristik generasi millenials di atas, mau tidak mau perusahaan dituntut untuk menyesuaikan diri dan bukan generasi millennial yang harus mengikuti budaya terdahulu. Rejuvenating your company is essential if you want your business to run longer. Perubahan memang terkadang terlihat sulit, namun, mengapa tidak mau melakukannya agar menjadi lebih baik?