​Tantangan Algoritma Baru Instagram

turnonpost-copy.jpg

Siapa yang tidak mengetahui Instagram? Hampir semua masyarakat Indonesia, baik tua atau muda maupun pengguna atau bukan pernah mendengar ‘instagram’. Apalagi untuk kalangan pengguna social media platform di Indonesia, instagram pastinya bukan hal yang asing dikehidupan sehari-hari dalam memberikan kemudahan untuk dapat berbagi aneka gambar/video ke khalayak banyak. Mulai dari foto selfie, aktivitas sehari-hari, hingga hal-hal yang disukai user. Ini juga berlaku sebaliknya dimana pengguna instagram dapat mencari dan mengikuti suatu brand/idola yang relevan dengan kesukaan mereka.

Seiring dengan berjalannya waktu, fungsi instagram mengalami revolusi dalam kegunaannya, beberapa pihak mengunakannya sebagai showcase produk mereka untuk berjualan online. Instagram juga menjadi salah satu alat yang ampuh bagi marketeers dalam membangun brand mereka secara digital. Melalui instagram, sebuah brand dapat dengan mudahnya memilih konten yang ingin diperlihatkan untuk targetnya, sekaligus menjadikannya sebagai media untuk melakukan engagement dengan pengikut (followers) akun brand tersebut.

Untuk membangun brand melalui instagram beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu konsistensi postingan misalnya dalam penggunaan icon-icon atau warna-warna gambar yang di post, maksimalkan fungsi hashtag – cari hashtag popular dan kaitkan dengan post anda, dan jalin kerja sama dengan influencer yang berhubungan dengan brand anda untuk membantu menaikkan rating brand anda.

Awalnya, algoritma instagram terbagi menjadi 2 ketika si pengguna melakukan pencarian gambar berdasarkan hashtag: top post yang menunjukkan postingan dengan jumlah likes dan comment terbanyak, most recents yang menunjukkan postingan terakhir. Melalui formula yang cukup sederhana ini, pengguna dapat mengatur post mereka sedemikian rupa untuk dapat terlihat oleh pengguna instagram secara luas.

Namun, beberapa saat yang lalu instagram mengumumkan perubahan algoritma mengenai cara pengguna instagram dalam melihat postingan di timeline mereka. Algoritma baru instragram memiliki sistem kerja yang mereka sebut learning machine dimana sistem algoritma yang baru akan menyusun postingan bedasarkan kebiasaan (habit) keseharian si pengguna. Algoritma ini pada akhirnya akan menampilkan postingan yang dianggap disukai oleh si pemilik akun. Algoritma baru ini tidak lagi menampilkan postingan gambar secara runtut, tetapi berdasarkan dengan interest, relationship, dan timeliness sesama pengguna instagram. Perubahan algoritma ini berdasarkan hasil temuan Instagram yang menyatakan bahwa rata-rata 70% post di newsfeed tidak dilihat oleh user dikarenakan kesibukan masing-masing ataupun perbedaan waktu yang terjadi; melalui algoritma yang baru ini instagram hanya akan menampilan postingan yang dianggap sesuai dengan kesukaan pemilik akun.

Masih belum diketahui secara persis kapan seluruh algoritma ini akan mulai diberlakukan. Hal ini tentunya akan menjadi tantangan bagi para marketeer dalam merancang online campaign. Postingan menjadi lebih fokus kepada target user; kuantitas post bukan lagi menjadi fokus utama karena pada akhirnya post akan terfokus kepada pilihan konten yang berkualitas. Beberapa brand telah memulai kampanye mengantisipasi perubahan ini dengan merayu follower mereka untuk mengaktifkan fungsi “turn on post notification” agar tetap dapat memberikan informasi dan melakukan engagement kepada user. Instagram saat ini telah dikenal sebagai king of engangement; sehingga memang sudah seharusnya para marketeer menggunakan channel ini sebaik mungkin dalam membangun engagement dengan target audience-nya.

Faspay_brand-engagement.jpg

Brand Engangement: Tap Into Your Customer’s Behaviours

cermat_belanja_online.jpg

Cermat Belanja Online dengan 5 Tips Jitu

Faspay-Swa-Business-Update-Bandung-2-copy.jpg

SWA Business Update “Fungsi & Peran Fintech dalam Industri Finansial”